SHU
- Liu Bei
Liu Bei (劉備) (161-223) adalah seorang tokoh terkenal di Zaman Tiga Negara. Ia lahir di Kabupaten Zhuo (sekarang di wilayah provinsi Hebei), merupakan keturunan dari Liu Sheng, Raja Jing di Zhongshan yang merupakan anak dari Kaisar Jing dari Han. Dihitung-hitung, ia masih paman dari Kaisar Xian dari Han yang memerintah waktu itu. Ia bernama lengkap Liu Xuande. Ia juga dikenal di kalangan Tionghoa Indonesia dengan nama Lau Pi yang merupakan lafal dialek Hokkian.
Liu Bei |
Karier politiknya dimulai dengan pemberantasan pemberontak Serban Kuning di akhir zaman Dinasti Han yang mengancam legitimasi dinasti tersebut bersama dengan 2 saudara angkatnya, Guan Yu dan Zhang Fei. Setelah berjasa atas pemadaman pemberontakan tadi, ia diberikan jabatan kecil sebagai penjabat bupati di sebuah kabupaten kecil di daerah Anxi.
Pada
awalnya, karier politiknya sangat tidak mulus. Tidak punya wilayah
sendiri untuk menyusun kekuatan, ia bahkan sempat mencari perlindungan
dan menjadi bawahan daripada kekuatan-kekuatan lainnya di masa tersebut
misalnya Tao Qian, Yuan Shao, Lu Bu, Cao Cao, Liu Biao dan terakhir Liu Zhang yang kemudian menyerahkan Prefektur Yizhou kepadanya sebagai tempat menyusun kekuatan.
Keberhasilannya di kemudian hari adalah karena muncul orang-orang di sekelilingnya yang membantu dalam banyak hal, seperti Zhuge Liang dan Pang Tong di bidang sipil, strategi dan politik; Guan Yu, Zhang Fei, Ma Chao, Huang Zhong dan Zhao Yun di bidang militer.
Setelah menguasai Prefektur Yizhou dan Hanzhong, ia kemudian memaklumatkan diri sebagai Raja Hanzhong. Tahun 221, setahun setelah Cao Pi memaklumatkan diri sebagai kaisar, Liu Bei juga memaklumatkan diri sebagai Kaisar Han Liedi, mendirikan Negara Shu Han yang mengklaim legitimasi sebagai penerus Dinasti Han yang resmi telah tidak ada setelah proklamasi Negara Cao Wei.
Sepeninggalnya, ia digantikan oleh anaknya Liu Chan yang tidak cakap memerintah. Seluruh urusan pemerintahan pada saat itu dibebankan kepada Zhuge Liang sebagai perdana menteri.
Liu
Bei adalah keturunan dari pangeran Sheng dari Zhongshan, cucu buyut
dari kaisar keempat Han, Jing. Liu Bei hidup dalam kemiskinan semasa
mudanya. Ayahnya telah meninggal dan ibunya bekerja sebagai penenun dan
penjual sandal jerami. Pada umur 15 tahun, Liu Bei bersama rekannya, Gongsun Zan berguru pada Lu Zhi.
Pada masa Pemberontakan Serban Kuning, dia terpilih menjadi Pegawai Pengadilan di kabupaten Anxi.
Liu Bei memulai karier militernya di bawah komandan utama,He Jin dalam perwalian Gongsun Zan sebagai Komandan Pasukan Cadangan dan bupati Ping Yuan.
Ketika Cao Cao menyerang kota Xu Zhou milik Tao Qian, Liu Bei membawa pasukannya untuk melindungi sang Pelindung Kekaisaran. Pada tahun 196, Liu Bei direkomendasikan untuk menjabat sebagai Jendral Penjaga Wilayah Timur dan diberi gelar Penguasa Yicheng.
Selanjutnya Liu Bei membantu Cao Cao dalam penangkapan Lu Bu
dan dipromosikan menjadi Jendral Pasukan Kiri. Saat ini, kaisar Xian
mengetahui adanya hubungan keluarga antara Liu Bei dan pangeran
Zhongshan sehingga ia menganugerahi Liu Bei gelar "Paman Kaisar".
Antara tahun 198 - 199, Liu Bei tidak disenangi Cao Cao karena mendukung rencana pembunuhannya. Liu Bei pindah ke Xia Pi,dan pada tahun 200, meminta perlindungan Yuan Shao.
Setelah bertemu kembali dengan saudara angkatnya, Zhang Fei dan Guan Yu, Liu Bei meninggalkan Yuan Shao untuk menjumpai Liu Biao di Jingzhou. Cao Cao mengejar Liu Bei yang akhirnya melepas pos pertahanannya di Fancheng dan mengungsi ke Xia Kou. Selanjutnya Liu Bei bersekutu dengan Sun Quan untuk mengalahkan Cao Cao. Setelah kemenangan mutlak di Pertempuran Chibi, Liu Bei sukses menempati daerah selatan Jing saat Zhou Yu menghancurkan angkatan perang Cao Cao.
Setelah
wafatnya Liu Biao dan putranya Liu Qi, Liu Bei menempati beberapa
kabupaten di provinsi Jing. Ia kemudian menikahi adik Sun Quan dan resmi
menjadi Pelindung Jingzhou.
Pada tahun 211, ia berangkat ke Yizhou sambil berpura-pura membantu Liu Zhang mengalahkan Zhang Lu.
Saat ini, Liu Bei menerima dua rekomendasi untuk menempati posisi
Menhankam dan Panglima Distrik Ibukota. 3 tahun kemudian, Liu Bei
berbalik melawan Liu Zhang dan menguasai Cheng Du dan seluruh wilayah barat. Ia menjabat sebagai Pelindung Yizhou dan pada tahun 219, ia mengangkat dirinya sebagai Raja Hanzhong.
- Guan Yu
Guan
Yu (關羽)
(160 - 219) adalah seorang jenderal terkenal dari Zaman Tiga Negara. Guan Yu
dikenal juga sebagai Kwan Kong, Guan Gong, atau Kwan Ie,
dilahirkan di kabupaten Jie, wilayah Hedong (sekarang kota Yuncheng, provinsi
Shanxi), ia bernama lengkap Guan Yunchang atau Kwan Yintiang.
Guan Yu merupakan jenderal utama Negara Shu Han, ia bersumpah setia mengangkat saudara dengan Liu Bei (kakak tertua) dan Zhang Fei (adik terkecil).
Guan Yu merupakan jenderal utama Negara Shu Han, ia bersumpah setia mengangkat saudara dengan Liu Bei (kakak tertua) dan Zhang Fei (adik terkecil).
Guan Yu bernama lengkap Yunchang (bernama asli Changsheng), berasal dari Hedong dan pernah menjadi buron di distrik Zhuo. Saat Liu Bei mengumpulkan pasukan di desanya, Guan Yu dan Zhang Fei membantunya untuk melawan para pemberontak. Liu Bei kemudian diangkat menjadi Gubernur Pingyuan, sedangkan Guan Yu dan Zhang Fei sebagai walikota. Mereka bertiga tinggal bersama dalam satu atap bagaikan saudara. Saat Liu Bei membunuh Che Zhou, gubernur Xuzhou, dia memerintahkan Guan Yu untuk mengatur pemerintahan kota Xiapi, sedangkan ia mengatur di Xiaopei.
Pada tahun ke-5 JianAn (200 M), Cao
Cao menguasai wilayah Liu Bei dan Liu Bei mencari suaka pada Yuan Shao. Cao Cao
berhasil menangkap Guan Yu dan mengangkatnya menjadi perwira, dengan pangkat
Pian Jiangjun (Letnan Jendral). Yuan Shao mengirim jendralnya Yan Liang untuk
menyerang Liu Yan di Baima, dan Cao Cao membalas dengan mengirimkan Zhang Liao
sebagai panglima pelopor. Guan Yu yang melihat payung kebesaran Yan Liang
langsung memburunya dan membunuh Yan Liang. Ia membawa kepala Yan Liang
sedangkan pasukan Yuan Shao mundur dari pertempuran. Guan Yu dianugerahi gelar
Hanshou Tinghou (Marquis Hanshou).
Awalnya Cao Cao merasa puas dengan
Guan Yu tetapi lama kelamaan tahu bahwa Guan Yu ragu untuk menetap. Akhirnya ia
memerintahkan Zhang Liao untuk menemui dan membujuknya. Jawab Guan Yu,
"Saya sangat memahami penghormatan yang diberikan Cao Cao, namun jendral
Liu (Bei) juga telah memperlakukan saya dengan baik maka saya bersumpah untuk
mati bersamanya dan tak akan mengkhianatinya. Saya tak akan tinggal di sini
selamanya, tetapi saya mau menorehkan jasa besar sebelum pergi untuk membayar
kebaikan Cao Cao." Zhang Liao menjelaskan hal itu kepada Cao Cao yang
terkesan dengan kebaikannya. Melihat Guan Yu membunuh Yan Liang, Cao Cao
mengerti Guan Yu akan segera meninggalkannya, maka ia segera membanjirinya
dengan hadiah. Guan Yu menyegel semua hadiah itu sambil menyerahkan surat
pengunduran diri sebelum pergi menyusul Liu Bei. Cao Cao mencegah anak buahnya
mengejar sambil berkata "Semua punya tuannya masing-masing, janganlah kita
memburunya."
Tak lama Liu Bei bergabung dengan
Liu Biao. Saat Liu Biao meninggal, Cao Cao mengamankan Jingzhou dan Liu Bei
harus mengungsi ke selatan. Liu Bei mengutus Guan Yu membawa beberapa ratus
kapal untuk menemuinya di Jiangling. Cao Cao mengejar sampai ke jembatan
Changban sehingga Liu Bei harus menyeberanginya untuk bertemu Guan Yu dan
bersamanya pergi ke Xiakou. Sun Quan mengirim pasukan untuk membantu Liu Bei
bertahan dari Cao Cao, hingga Cao Cao menarik mundur pasukannya. Liu Bei
kemudian menentramkan wilayah Jiangnan, mengadakan upacara penghormatan korban
perang, mengangkat Guan Yu sebagai gubernur Xiang Yang dan menggelarinya
Dangkou Jiangjun (Jendral yang Menggentarkan Penjahat). Guan Yu ditempatkan di
utara sungai Kuning.
Saat Liu Bei menentramkan Yizhou,
dia mengutus Guan Yu untuk menjaga Jingzhou. Guan Yu mendapat kabar Ma Chao
menyerah. Karena ia belum pernah berkenalan, maka ia mengirim surat pada Zhuge
Liang, "Siapa yang dapat menandingi kemampuan Ma Chao?" Untuk menjaga
perasaan Guan Yu, Zhuge Liang menjawab, "Ma Chao sangat pandai dalam seni
literatur dan seni perang, lebih kuat dan berani dari kebanyakan orang, seorang
pahlawan yang dapat menandingi Qing atau Peng dan dapat menjadi tandingan Zhang
Fei yang hebat, tetapi dia bukan yang dapat menandingi Sang Jendral Berjanggut
Indah" (yaitu Guan Yu). Guan Yu bangga membaca surat itu dan
menunjukkannya pada tamu-tamunya yang hadir.
Guan Yu pernah terkena panah pada
lengan kirinya, walaupun lukanya sembuh, tetapi tulangnya masih terasa sakit
terutama pada saat hawa dingin ketika hujan turun. Seorang tabib bernama Hua
Tuo berkata "Ujung panahnya diberi racun, dan telah menyusup ke dalam
tulang. Penyembuhannya dengan cara membedah lengan dan mengikis tulang yang
terinfeksi racun sebelum menjadi parah di kemudian hari." Guan Yu langsung
menyingsingkan lengan baju dan meminta sang tabib menyembuhkannya. Saat
dibedah, Guan Yu makan dan minum dengan perwiranya walaupun darah terus
mengucur dari lengannya. Selama proses itu berlangsung, Guan Yu menengguk arak,
bersenda gurau dan bermain Weiqi(GO) melawan Ma Liang seperti biasa.
Tahun ke-24 Jian An (219), Liu Bei
mengangkat diri menjadi Raja Hanzhong dan mengangkat Guan Yu menjadi Qian
Jiangjun (Jendral Garis Depan). Di tahun yang sama, Guan Yu memimpin
tentaranya untuk menyerang Cao Ren di benteng Fan. Cao Cao mengirim Yu Jin
untuk membantu Cao Ren. Saat itu musim dingin dan hujan turun teramat derasnya
sehingga meluapkan air sungai Han. Akhirnya ketujuh pasukan yang dipimpin Yu
Jin seluruhnya hanyut. Yu Jin menyerah pada Guan Yu yang lalu mengeksekusi Pang
De.
Perampok daerah Liang yaitu Jia dan Lu direkrut oleh Guan Yu untuk membantunya dalam pertempuran tersebut. Sejak itu nama Guan Yu terkenal di seluruh dataran Tiongkok.
Perampok daerah Liang yaitu Jia dan Lu direkrut oleh Guan Yu untuk membantunya dalam pertempuran tersebut. Sejak itu nama Guan Yu terkenal di seluruh dataran Tiongkok.
Cao Cao lalu mendiskusikan dengan
para pembantunya apakah relevan untuk memindahkan ibukota negara ke Xudu untuk
menghindari pertempuran dengan pasukan Guan Yu yang terkenal kuat. Sima Yi
menolak ususlan itu dan mengusulkan hal lain. Dia memperkirakan bahwa Sun Quan
juga tidak akan membiarkan Guan Yu meraih kemenangan berikutnya, oleh sebab itu
Sima Yi menyusun strategi dan mengirim utusan kepada Sun Quan, memohon agar
pasukannya menyerang pasukan Guan Yu dari belakang dan sebagai imbalan maka Sun
Quan akan mendapatkan Jiangnan -- hal ini juga bertujuan agar pasukan di
benteng Fan akan bergabung juga dengan Sun Quan untuk memperkuat aliansi. Cao
Cao akhirnya menerima usulan ini.
Perseteruan antara Guan Yu dan Sun
Quan pada awalnya terjadi ketika Sun Quan mengirimkan utusan ke Guan Yu untuk
mengungkapkan keinginannya mempersunting anak perempuan dari Guan Yu untuk
dipersandingkan dengan anak laki-lakinya. Tetapi Guan Yu menghina utusan
tersebut dan menolak proposal yang diajukan. Sun Quan sangat marah dan merasa
terhina dengan penolakan itu dan menyimpan dendam terhadap Guan Yu. Hal inilah
yang dimanfaatkan oleh Sima Yi untuk memperlemah posisi Guan Yu.
Disamping itu ada juga hal lain yang
turut memperlemah posisi Guan Yu dalam peperangan ini. Mi Fang, Gubernur Nanjun
di kota Jiangling dan Jenderal Fu Shiren, yang bertugas di Gong An, yang
menjadi bagian dari pasukan Guan Yu merasa Guan Yu tidak pernah menganggap
mereka. Bahkan sejak terakhir kalinya Guan Yu mengirimkan pasukan ke medan
perang, Mi Fang and Fu Shiren hanya ditugaskan untuk menjaga suplai persediaan
makanan dan senjata di garis belakang dan tidak terlibat sama sekali dalam
setiap peperangan. Isu tersebut terdengar oleh Guan Yu dan dia memutuskan akan
menjatuhkan hukuman kepada mereka setelah kembali dari medan perang. Mendengar
berita itu, Mi Fang and Fu Shiren sangat ketakutan. Sun Quan menggunakan
kesempatan ini untuk menggoyahkan loyalitas mereka dengan memerintahkan pasukan
mereka untuk menyerah, dan akhirnya hal itu terjadi, sehingga pasukan Wu bisa
menguasai daerah tersebut. Cao Cao lalu mengutus Xu Huang untuk membantu Cao
Ren dalam mempertahankan benteng Fan dari gempuran pasukan Guan Yu; Guan Yu
tidak berhasil dalam misinya untuk menaklukkan Cao Cao dan akhirnya mundur,
akan tetapi pasukan Sun Quan telah menguasai Jiangling dan menyandera
istri-istri dan anak-anak dari pasukan Guan Yu. Hal ini membuat perpecahan di
dalam pasukan Guan Yu. Akhirnya Sun Quan mengirimkan jenderal-jenderalnya untuk
menangkap Guan Yu dan kemudian menghukum mati Guan Yu beserta anaknya Guan Ping
di Lingju.
Dian Lue: Ketika Guan Yu mengepung kota Fan, Sun Quan mengirim utusan
untuk membantu. Ia memerintahkan utusan itu untuk tidak terburu-buru, tetapi
mengirimkan pegawai sipil berpangkat tinggi kepada Guan Yu. Guan Yu kesal
dengan keterlambatan itu, apalagi saat itu ia sudah menangkap Yu Jin sehingga
ia mencela "Jika kalian gurita kecil berani menyerang kota Fan, tidakkah
kau pikir saya dapat menghancurkan kau?"
Pei Song Zhi: Hamba pikir walaupun
Shu dan Dong terlihat akur, tetapi terdapat kecurigaan berlebihan antara
keduanya akan kepentingan satu sama lainnya. Ini sebabnya mengapa Sun Quan
diam-diam menyerang Guan Yu. Menurut Lu Meng Zhuan (Biografi Lu Meng) :
"Pasukan gerilya telah disiapkan dalam kapal besar dan rakyat jelata yang
menyamar sebagai pedagang diperintahkan untuk mengayuh kapal tersebut." Jika
memang ada niat baik untuk membantu dari pihak Wu, mengapa Sun Quan
merahasiakan pasukan itu?
(1)Shu Ji (Buku Shu): Guan Yu dan Xu
Huang adalah teman dekat dan saling berkomunikasi walau terpisah jarak yang
jauh. Namun mereka hanya membicarakan hal-hal sepele yang tidak berhubungan
dengan urusan kemiliteran. Saat bertempur, Xu Huang berteriak "Siapa yang
dapat mengambil kepala Guan Yu akan dihadiahkan seribu keping uang emas!"
Guan Yu terkejut dan bertanya "Kakak, mengapa kau berbicara seperti
itu?" Jawab Xu Huang,"Ini adalah urusan negara."
(2)Shu Ji (Buku Shu): Sun Quan
memerintahkan pasukannya untuk menyerang dan menangkap Guan Yu serta putranya,
Guan Ping. Sun Quan ingin keduanya hidup-hidup sebagai tameng serangan Shu dan
Wei. Tetapi anak buahnya berdalih "Membiarkan sarang serigala sama saja
mengasuh bencana di kemudian hari. Cao Cao telah mengalaminya,sampai harus
memindahkan ibukotanya. Bagaimana mungkin kita membiarkannya hidup?" Maka,
Guan Yu dan putranya dihukum mati.
Pei Song Zhi: Hamba ingin menegaskan
Buku Wu, yang mengatakan Sun Quan mengirimkan jendral Pan Zhang untuk
menghambat jalur larinya Guan Yu yang kemudian dieksekusi mati di tempat. Jarak
antara Lin Ju dan Jiangling sekitar 200 sampai 300 mil, sehingga Guan Yu tidak
mungkin dibiarkan hidup sampai Sun Quan dan perwiranya selesai berdebat apakah
perlu melepaskannya. Pernyataan "Sun Quan ingin keduanya hidup-hidup
sebagai tameng serangan Shu dan Wei" adalah tidak benar. Wu Li (Buku
Kronologis Negeri Wi) mengatakan "Sun Quan mengirim kepala Guan Yu ke Cao
Cao saat perwiranya menyiapkan pemakaman yang layak bagi sisa jasadnya."
Guan Yu dianugerahi gelar anumerta
Zhuangzhou Hou (Marquis Zhuangzhou). Putranya, Guan Xing menggantikannya. Guan
Xing, bernama lengkap Anguo, jarang mempertanyakan perintah sehingga amat
disukai oleh perdana menteri Zhuge Liang. Guan Xing diangkat menjadi Shizhong
(Ajudan Istana) dan Zhongjiangjun (Jendral Pasukan Utama/Tengah) saat
kesehatannya menurun. Beberapa tahun kemudian ia wafat dan digantikan putranya,
Guan Tong sebagai Huben Zhonglang Jiang (Jendral yang memiliki Kelincahan
Macan). Guan Tong wafat tanpa memiliki keturunan laki-laki.
(3)Shu Ji (Buku Shu): Saat Guan Yu
bertolak ke kota Fan, ia bermimpi seekor babi hutan menggigit kakinya. Yu Zi
Ping berkata "Kau akan hancur pada tahun ini, dan tidak akan kembali
bangkit."
(4)Shu Ji (Buku Shu): Putra Pang De,
Pang Hui bertempur di bawah Zhong Hui dan Deng Ai untuk menghancurkan Shu. Saat
merebut Shu, ia membinasakan seluruh anggota keluarga Guan yang masih hidup.
- Zhang Fei
Zhang Fei (:張飛),bernama
lengkap Zhang Yide (張益德
/ 张翼德),
saudara angkat termuda dari Liu Bei dan Guan Yu dan seorang panglima perang
terkenal pada Zaman Tiga Negara. Dalam novel Kisah Tiga Negara karangan
Luo Guan Zhong. Di kalangan Tionghoa Indonesia, ia dikenal juga dengan nama Tio
Hoei.
Zhang Fei (Zhang Yide) berasal dari
daerah Zhuo dan telah berteman dengan Liu Bei dan Guan Yu sejak muda. Guan Yu
yang lebih tua beberapa tahun menjadi kakak angkat Zhang Fei. Liu Bei bergabung
di bawah komando Cao Cao saat penaklukkan Lu Bu. Pada masa itu, Zhang Fei
mengikuti Liu Bei ke Xu Du, dan diangkat menjadi Zhonglang Jiang. Di kemudian
hari, Liu Bei meninggalkan Cao Cao untuk bergabung dengan Yuan Shao,lalu Liu
Biao.
Saat Liu Biao meninggal, Cao Cao memasuki daerah Jingzhou, sehingga Liu Bei harus kabur ke Jiangnan. Cao Cao mengejar dan selang sehari semalam pasukannya telah sampai di Changban, Dangyang. Saat mengetahui hal itu, Liu Bei meninggalkan istri dan putranya dan memerintahkan Zhang Fei untuk memimpin 20 prajurit berkuda untuk menjaga barisan belakang. Zhang Fei menghancurkan jembatan yang membatasi kedua pasukan. Sambil berjaga-jaga, Zhang menatap ke arah pasukan Cao Cao dan berkata "Saya Zhang Yide, dan siapa saja boleh maju dan bertarung melawan saya sampai mati!" Tak ada satupun yang berani sehingga pertempuran berhasil dihindari.
Sejak itu, Liu Bei berhasil
mengamankan Jiangnan dan menunjuk Zhang Fei sebagai gubernur Yidu dan
memberinya gelar Zhenglu Jiangjun (Jendral yang Menaklukkan Pemberontak) dan
Marquis Xinting. Tak lama kemudian, dia dipindahkan ke Nanjun.
Ketika Liu Bei memasuki Yizhou dan
menyerang Liu Zhang, Zhang Fei bersama Zhuge Liang dan lainnya menelusuri arus
sungai sambil menaklukkan beberapa kabupaten dan pangkalan militer di sana.
Mereka tiba di Jiangzhou dan menangkap jendral Liu Zhang yang juga pemimpin
pangkalan militer Ba, Yan Yan hidup-hidup. Zhang Fei mencaci Yan Yan,
"Pasukan kami telah tiba, mengapa Anda tidak menyerah, malah mencoba
melawan kami?" Jawab Yan Yan, "Kalian tidak punya alasan untuk
menyerang daerah kami. Di sini tidak dikenal jendral yang menyerah; cuma ada
jendral tanpa kepala." Zhang Fei menjadi murka dan menyuruh tentaranya
untuk memenggal kepalanya, tetapi Yan Yan yang tidak bergeming berkata,
"Jika ingin bunuh saya, lakukanlah, mengapa Anda marah-marah?" Zhang
Fei terkesan dengan ketegarannya hingga ia melepaskan Yan Yan dan menjamunya
seakan seorang tamu kehormatan.
Zhang Fei bergerak menuju Yizhou dan
memenangkan seluruh pertempuran untuk akhirnya bertemu dengan pasukan Liu Bei
di Chengdu. Yizhou akhirnya ditentramkan. Zhuge Liang, Fa Zheng, Zhang Fei dan
Guan Yu masing-masing dianugerahi 500 kati emas, 1000 kati perak dan 5000
keping uang serta 1000 lembar sutera. Sisanya dibagikan ke seluruh jajaran
pasukan. Zhang Fei juga diangkat menjadi gubernur Baxi.
Cao Cao mengalahkan Zhang Lu dan
menempatkan Xiahou Yuan dan Zhang He untuk menjaga Hanchuan. Zhang He memimpin
beberapa tentara dari pasukan utama menuju selatan ke arah Baxi dan mencoba
memindahkan rakyat jelata ke Hanzhong. Ketika Zhang He dan pasukannya memasuki
Dangqu, ia langsung bertempur melawan Zhang Fei selama 50 hari. Zhang Fei
memimpin sekitar 10000 pasukan khusus untuk melakukan serangan dadakan ke arah
Zhang He. Rute di pegunungan sangat sempit sehingga pasukan Zhang He tidak
dapat saling membantu satu sama lainnya, maka Zhang Fei menang telak di
pertempuran itu. Zhang He terpaksa meninggalkan kudanya dan melarikan diri
lewat daerah pegunungan hanya disertai belasan prajurit. Akhirnya Zhang Fei
memimpin pasukannya untuk mundur ke Nanzheng, dan rakyat Ba menjadi tenang
kembali.
Ketika Liu Bei menjadi Pangeran
Hanzhong, dia memberi Zhang Fei pangkat You Jiangjun (Jendral Pasukan Kiri).
Pada tahun pertama ZhangWu (221 M), Zhang Fei diangkat menjadi Cheqi Jiangjun
(Jendral Kereta Kuda dan Kavaleri), Direktur Kolonel dari Pejabat Rumah Tangga
Negara dan Marquis of Xixiang. Pada pidatonya, Liu Bei berkata, "Saya
hanya melaksanakan titah dari Langit untuk menumpas keresahan negara ini dan
membawa stabilitas keamanan kepada bangsa kita. Saat ini banyak pemberontak
yang membawa kehancuran, mengakibatkan kesengsaraan rakyat. Mereka yang membela
dinasti Han akan menunggu suatu langkah yang akan diambil menghadapi kerusuhan.
Saya merasa khawatir dan tidak tenang saat saya duduk di sini sampai tidak
dapat merasakan nikmatnya makanan, sambil mengumpulkan pasukan untuk
mendengarkan janji saya kepada Langit dan hasrat untuk melaksanakan keinginan
Langit. Saya butuh kesetiaan Anda sambil saya mengumpulkan talenta-talenta terbaik
dan berharap misi ini dapat tersebar luas agar menjadi jelas bagi semua pihak,
untuk memperingati para ningrat yang berkuasa di ibukota. Dengan berkat Yang
Maha Kuasa, saya akan menganugerahi yang benar dan menumpas yang jahat."
Pada awalnya, Zhang Fei dianggap
lebih payah daripada Guan Yu, di luar dari kekuatan dan keperkasaannya, tetapi
penasehat Cao Wei seperti Cheng Yu mengatakan bahwa Guan Yu dan Zhang Fei
"mampu bertarung melawan selaksa pasukan". Guan Yu baik terhadap anak
buahnya tetapi besar kepala terhadap kesatria lainnya. Sebaliknya, Zhang Fei
menghormati kesatria, tetapi kasar terhadap anak buahnya. Liu Bei sering
mengingatkannya, "Engkau membunuh secara berlebihan dan sering menghajar
prajuritmu. Hati-hati suatu saat engkau akan mendapat masalah dengan anak
buahmu." Walaupun ia agak khawatir tetapi ia tidak juga berubah.
Ketika Liu Bei melakukan ekspedisi
melawan Dong Wu, Zhang Fei menggerakkan sekitar 100 ribu pasukan dari Langzhong
untuk bertemu dengan pasukan utama di Jiangzhou. Sebelum ia tiba, anak buahnya
yang bernama Zhang Da dan Fan Jiang membunuhnya dan membawa kepalanya pada Sun
Quan sambil menyerahkan diri. Ketua penyelia di markas Zhang Fei langsung
melaporkan kejadian itu kepada Liu Bei yang langsung berkata "Zhang Fei
telah mati!" Zhang Fei diberi gelar anumerta Marquis YueHeng. Putra
tertuanya, Zhang Bao meninggal di usia muda, sedangkan putra keduanya Zhang
Shao menggantikan ayahnya dan diangkat sebagai pejabat istana dan sekretaris
negara. Putra Zhang Bao, Zhang Zun juga diangkat menjadi sekretaris negara dan
mengikuti Zhuge Zhan ke Mianzhu, di mana ia terbunuh dalam pertempuran melawan
Deng Ai.
- Zhao Yun
Zhao Yun (趙雲)
(168 - 229) adalah seorang jenderal terkenal dari Zaman Tiga Negara. Ia
terakhir mengabdi pada negara Shu Han. Ia lahir di Zhending (sekarang kabupaten
Zhengding, provinsi Hebei). Zhao Yun bernama lengkap Zhao Zilong.
Pertama mengabdi kepada Gongsun Zan, ia kemudian tidak menyerah kepada Yuan Shao yang menaklukkan Gongsun Zan. Setelah itu, ia bertemu Liu Bei dan memutuskan untuk mengabdi kepadanya. Setelah Liu Bei wafat ia menjaga Liu Chan Sampai akhir hayat.
Zhao Yun (168-229), bernama lengkap Zhao Zilong, yang berarti anak naga, lahir di Zhending, propinsi Chang shan (sekarang Hebei, China bagian utara). Zhao Yun dikenal sebagai satu di antara Lima Jendral Harimau yang mengabdi kepada Liu Bei.
Zhao Yun awalnya menjadi jendral dari Gongsun Zan yang berkuasa di daerah tersebut sekitar akhir tahun 191 M. Ia mengawali kariernya sebagai komandan grup kecil relawan desa. Pada tahun 192 M, ia ditempatkan dibawah komando Liu Bei sebagai komandan pasukan kavaleri, yang waktu itu masih menjadi mayor di bawah pemerintahan Gongsun Zan.
Zhao Yun pergi meninggalkan Gongsun Zan dan Liu Bei sementara waktu, untuk menghadiri pemakaman kakak laki-lakinya. Ia kembali bergabung dengan Liu Bei pada tahun 200 M. Hubungan Zhao Yun dan Liu Bei begitu baik, sehingga menurut cerita rakyat, mereka pernah tidur di tempat tidur yang sama, pada saat darurat di kota Ye. Zhao Yun juga dipercaya untuk merekrut orang secara diam-diam untuk memperkuat pasukan Liu Bei. Sejak itulah, Zhao Yun menjadi pengikut setia Liu Bei.
Setelah Gongsun Zan wafat, Zhao Yun tetap mengabdi pada Liu Bei karena ia melihat kebaikan Liu Bei yang begitu mendalam.
Sewaktu pertempuran di Chang Ban (sekarang, dekat kota Yichang, Propinsi Hebei), pada tahun 208 M, Zhao Yun diutus untuk menyelamatkan istri dan anak Liu Bei, Liu Chan yang masih bayi. Ketika Zhao Yun sampai di sana, istri Liu Bei tidak mau membebani Zhao Yun, karena jalan kembalinya sangat berbahaya. Maka Zhao Yun membawa sendiri anak Liu Bei dengan mengendarai kudanya, dan menerobos kepungan pasukan Cao Cao yang jumlahnya sangat banyak, dengan berani Zhao Yun mempertaruhkan nyawanya selama perjalanan kembali dengan menembus dan mengalahkan banyak pasukan Cao Cao dengan seorang diri.
Zhao Yun dikenal sebagai jendral Yijun, setelah Liu Bei menguasai Cheng Du. Pada saat Liu Chan dinobatkan menjadi kaisar Shu pada tahun 223 M, Zhao Yun menerima gelar "Jendral yang menahlukkan Daerah Selatan", dan dinobatkan sebagai Marquis Yongchangting. Kemudian dia dipromosikan menjadi "Jendral yang memelihara Perdamaian di Timur".
Tahun 227 M, Zhao Yun, dikenal sebagai jendral tanpa tanding di Shu, ditemani Zhuge Liang melakukan ekspedisi utara pertama menuju Hanzhong. Pada musim semi berikutnya, Zhao diperintahkan untuk memimpin barisan melalui Yegu, untuk mengalihkan perhatian musuh terhadap pasukan inti Liu Bei, yang berbaris melalui Qishan. Zhao Yun bertemu pasukan Wei yang dipimpin oleh jendral Cao Zhen yang terkenal. Setelah berhasil menahan gempuran serangan pasukan Wei, Zhao Yun menarik pasukannya secara teratur. Ia dikaruniai gelar "jendral yang memelihara Perdamaian Dalam Armada".
Sekitar tahun 229 M, Zhao Yun wafat di Hanzhong. Kematiannya ditangisi oleh banyak pasukan dan perwira Shu. Ia menerima anugrah anumerta Marquis Shunping dari Liu Chan pada tahun 261 M.
Zhao Yun mempunyai dua orang anak laki-laki, Zhao Tong dan Zhao Guang. Zhao Guang menjadi bawahan jendral Jiang Wei, dan gugur di medan pertempuran di Ta Zhong.
- Zhuge Liang
Zhuge Liang (诸葛亮)
(181–234 AD) adalah ahli strategi militer Tiongkok yang terkenal pada periode
Tiga Kerajaan (220–280 AD). Ia menjabat sebagai perdana menteri Shu Han dengan
kaisarnya bernama Liu Bei. Ia bernama lengkap Zhuge Kongming dan nama
julukan Wòlóng, juga dikenal sebagai Cukat Liang atau Kong
Beng di kalangan Tionghoa Indonesia. Ia adalah salah satu tokoh sentral di
balik berdirinya Tiga Kerajaan.
Zhuge
Liang
|
Ia mengikuti Liu Bei setelah Liu Bei dan kedua adik angkatnya membuat tiga kunjungan untuk menjemputnya menjadi ahli strategi negeri Shu. Terharu dengan keikhlasan dan kemurnian hati Liu Bei yang menangis karena mengenangkan nasib rakyat di zaman peperangan itu, maka ia menghambakan diri kepada Liu Bei. Nasihat pertama yang diberikannya secara pribadi kepada Liu Bei adalah "Longzhong Plan", yaitu tentang pendirian tiga negara besar di tanah Tiongkok, yaitu Wei, Wu dan Shu. Nasihat pertama Zhuge Liang ini menjadi kenyataan setelah beberapa tahun membantu Liu Bei di dalam peperangan untuk menegakkan Dinasti Han yang telah rapuh.
Zhuge Liang adalah seorang ahli strategi dan advisor dari Shu, dia sering dipanggil ”Sleeping Dragon” atau Naga Tidur. Dia jenius dalam banyak urusan, baik itu domestik dan urusan ke luar.
Setelah Liu Bei wafat, Liu Bei mengamanatkan padanya untuk memulihkan kembali kekuasaan Dinasti Han dan ’mengambil’ alih kekuasaan kalau-kalau anak Liu Bei, Liu Chan, tidak becus dalam menjalankan negara. Walaupun Liu Chan terbukti tidak cakap, Zhuge Liang masih menghargainya sebagai kaisarnya.
Hal pertama yang dia lakukan adalah mengamankan daerah Nanman. Dan pada tahun 225 AD dia menginvasi daerah Nanman dan berhasil menangkap pemimpinnya, Meng Huo. Zhuge Liang kemudian menawarkan status aliansi kepada Nanman yang kemudian ditolak oleh Meng Huo. Setelah Zhuge Liang menangkap dan melepaskan Meng Huo sebanyak tujuh kali, akhirnya Meng Huo mau menerima penawaran itu dan menjadi aliansi untuk Shu.
Setelah mengamankan daerah selatan dan memastikan tidak akan ada pemberontakkan dari Nanman maka kampanye utara pun dilaksanakan. Pada tahun 227 AD Zhuge Liang menginvasi Tian Shui dan berhasil merekrut seorang prajurit Wei yang cakap, Jiang Wei, untuk bergabung dengan Shu. Jiang Wei kemudian ditunjuk menjadi penerus Zhuge Liang.
Tahun 228 AD Dia mengirimkan anak buahnya, Ma Su untuk mengambil daerah Jie Ting. Dan perang antara Shu yang dikomandani oleh Ma Su dengan Wei yang dikomandani oleh Sima Yi terjadi. Ma Su yang telah dilarang oleh Zhuge Liang untuk mendirikan perkemahan di puncak gunung bersikeras melakukannya dengan alasan agar lebih mudah menghancurkan perkemahan musuh. Namun, tak terpikirkan oleh Ma Su, ternyata hal itu malah membuat Wei menjadi mudah menyerang. Pasukan Wei dipimpin oleh Zhang He menaiki bukit menuju perkemahan Shu yang membuat Ma Su mundur dan kalah telak. Pada akhirnya, Ma Su yang dijadikan penjahat negara dieksekusi mati oleh atasannya sendiri, Zhuge Liang.
Tahun 229 AD Zhuge Liang kembali mengambil alih komando perang, kali ini di Chen Cang. Chen Cang yang merupakan daerah Wei yang dilindungi oleh Sima Yi. Lagi-lagi perang antara Zhuge Liang dan Sima Yi terjadi. Alhasil, walaupun Chen Cang yang terutama gerbang utamanya itu sangat terlindungi, namun dengan segala perlengkapan berat Shu, Chen Cang akhirnya jatuh ke tangan Zhuge Liang.
Kampanye utara ini tak berakhir sampai di Chen Cang, tapi Zhuge Liang meneruskannya sampai ke dataran Wu Zhang. Pada awal kedatangan Shu ke daerah ini, Zhuge Liang sudah jatuh sakit dan berita ini sampai ke Sima Yi. Sebelum mulai perang terbuka, Zhuge Liang mengirimkan surat kepada kaisar Wu, Sun Quan, meminta untuk menyerang Wei dengan harapan Wei akan kekurangan pasukan ketika melawan Shu di Wu Zhang nanti. Kerajaan Wu meluluskan permintaan tersebut namun tidak dengan sepenuh hati dikarenakan hanya untuk menghargai aliansi Wu-Shu. Wu yang akhirnya menyerang istana He Fei milik Wei malah mengalami kekalahan. Tapi bagaimanapun perang di Wu Zhang harus tetap dimulai. Akhirnya pada tahun 234 AD Zhuge Liang mengumumkan perang terbuka terhadap Wei yang dikomandani oleh Sima Yi. Walaupun sakit, Zhuge Liang tetap mengomando pasukan Shu sampai akhirnya dia wafat ketika perang belum berakhir. Komando pasukan Shu diambil alih oleh Jiang Wei. Jiang Wei memerintahkan untuk menutupi kematian Zhuge Liang dari Wei. Namun Sima Yi yang merasakan keganjilan akan strategi yang Shu pakai berkesimpulan kalau Zhuge Liang sudah wafat. Dengan kesimpulan tersebut, dia membuat tentara Wei makin bersemangat dan membuat Jiang Wei harus mundur kembali ke Shu Han. Dan setelah perang berakhir, Sima Yi pergi ke sisa-sisa perkemahan Shu dan menganugerahi Zhuge Liang sebagai ’the greatest mind under heaven’
Kematian Zhuge Liang menjadi awal kemunduran bangsa Shu yang akhirnya menyerah kepada Wei pada tahun 263 AD (sekitar 30 tahun setelah Zhuge Liang wafat). Pada tahun 265 AD menteri negara Wei bernama Sima Yan (cucu dari Sima Yi) merebut kekuasaan dari keluarga Cao dan mendirikan negara Jin. Akhirnya pada tahun 280 AD Cina resmi dipersatukan di bawah Dinasti Jin yang akan berkuasa selama lebih dari 150 tahun berikutnya.
Kebesaran Zhuge Liang menyebabkannya digelari salah satu dari 6 perdana menteri terbesar dalam sejarah Tiongkok.
Zhuge Liang acapkali dilukiskan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.
- Jiang Wei
Jiang
Wei ( 姜維, 202-264)
adalah seorang jenderal dan ahli strategi Tiongkok pada Zaman Tiga Negara. Ia
pada awalnya mengabdi kepada Cao Rui, ia lalu mengabdi kepada Shu Han karena
muslihat Zhuge Liang. Ia bernama lengkap Jiang Boye. Ia menjadi penerus
Zhuge Liang.
Jiang Wei dilahirkan pada zaman Han akhir. Ayahnya adalah seorang prajurit yang terbunuh pada pemberontakan Qiang.
Dia pernah melancarkan sembilan invasi terhadap Cao Wei selama periode Tiga Kerajaan di Cina. Setiap invasi terpaksa ditinggalkan akibat kurangnya persediaan makanan dan kekalahan dalam pertempuran. Ekspedisi Jiang menghabiskan sumber daya Shu yang terbatas, dan menyebabkan hancurnya Shu Han pada tahun 263.
- Páng Tǒng
Páng Tǒng (龐統)
(178-213M), adalah penasehat Liu Bei pada zaman Dinasti
Han. Nama Taoisnya adalah Phoenix Muda (鳯雛;
Fèngchú). Novel epik sejarah Kisah Tiga Negara
menggambarkan Pang Tong sebagai seorang ahli strategi militer jenius, dan
menempatkannya di tingkat yang setara dengan ahli strategi Zhuge Liang. Kepada Liu Bei, Sima Hui menjuluki Pang Tong dan Zhuge Liang sebagai: "Naga
Tidur dan Phoenix Muda: bersama salah satu dari mereka, engkau bisa
menyelesaikan apapun di bawah langit"
- Guan Ping
Guan Ping (关平; pinyin: Guān Píng; ?–219) adalah anak pertama jenderal militer Tiongkok abad ke-3, Guan Yu. Pada maza Zaman Tiga Negara, ia menduduki jabatan militer dalam Shu Han. Tidak banyak yang diketahui mengenai Guan Ping kecuali bahwa ia dan ayahnya ditangkap di sebelah barat Maicheng (麦城, terletak di sebelah tenggara Dangyang, Hubei pada masa kini) oleh pasukan Wu Timur pada tahun 219 dan segera dieksekusi. Menurut buku Kisah Tiga Negara, Guan Ping adalah anak angkat Guan Yu, di mana ia diadopsi pada usia 17 tahun setelah diminta oleh ayahnya sendiri untuk membantu Guan Yu.
- Huang Zhong
Huang
Zhong (黃忠),bernama lengkap Huang Hansheng (黃漢升), seorang jendral dari Zaman Tiga Negara. Huang Zhong
adalah salah satu dari Lima Jenderal Macan Shu Han.
Huang Zhong adalah penduduk asli
Nanyang. Ia ditunjuk oleh penguasa Jingzhou, Liu Biao sebagai Zhonglang Jiang
dan menjaga provinsi Changsha dengan keponakan Liu Biao, Liu Pan. Ketika Cao
Cao menyerang Jingzhou, Huang pura-pura bersekutu dengannya. Huang diangkat
sebagai Shan Jiangjun (Wakil Jendral) dan tetap bertugas di bawah pimpinan
gubernur Changsha,Han Xuan.
Ketika Liu Bei berhasil menyatukan
beberapa provinsi di Selatan, Huang bergabung dengannya. Ia ikut serta dalam
penaklukan negeri Shu. Sejak ditugaskan di Jiameng dan perang melawan Liu
Zhang, Huang selalu menjadi yang pertama dalam melakukan penyerangan terhadap
musuh, dan jasa-jasanya dikenang oleh seluruh pasukan. Setelah penaklukan
Yizhou, Huang diangkat menjadi Taolu Jiangjun (Jendral yang Menumpas
Pemberontak).
Di gunung Dingjun, Huang bertarung
melawan pasukan Xiahou Yuan. Saat itu pasukan Xiahou Yuan merupakan pasukan
elite yang sangat terlatih, sehingga Huang berkesimpulan bahwa pasukan tersebut
mudah diprovokasi. Selanjutnya ia memerintahkan pasukannya untuk memancing
pengejaran pasukan lawan sampai ke lembah. Di tengah bisingnya suara tambur
perang dan sorak sorai, pasukan Huang Zhong membunuh Xiahou Yuan dalam
pertempuran pertama sehingga pasukan Xiahou tercerai berai. Dari kemenangan
tersebut, Huang diangkat menjadi Zhenxi Jiangjun (Jendral yang Menaklukkan
Wilayah Barat).
Ketika Liu Bei menjadi pangeran
Hanzhong, Huang diangkat menjadi Hou Jiangjun (Jendral Pasukan Belakang). Kata
Zhuge Liang kepada Liu Bei, "Dahulu. ketenaran Huang Zhong jauh di bawah
Ma Chao dan Guan Yu. Tetapi setelah pertempuran ini, dia bisa dianggap setara
dengan mereka. Ma Chao dan Zhang Fei menyaksikan sendiri buktinya sehingga
mereka seharusnya setuju. Akan tetapi, Guan Yu tidak bersama kita saat ini, dan
jika ia mendengarnya, dia tidak akan senang." Jawab Liu Bei, "Aku
akan menjelaskannya secara pribadi." Maka Huang disejajarkan dengan Guan
Yu dan yang lainnya, serta dianugerahi gelar Marquis GuanNei. Pada tahun
berikutnya, Huang Zhong meninggal dunia dan digelari Marquis Gang. Huang Zhong
memiliki putra bernama Huang Xu tetapi ia meninggal dalam usia muda.
- Ma Chao
Ma
Chao (馬超),bernama
lengkap Ma Mengqi (馬孟起),
putra tertua dari Ma Teng, seorang jendral pada Zaman Tiga Negara. Dalam novel Kisah
Tiga Negara karangan Luo Guan Zhong, Ma Chao juga dikenal sebagai anggota
dari Lima Panglima Harimau dari negeri Shu Han.
Ma Chao (Mengqi) adalah orang asli
Fufeng dari Maoling. Ayahnya (Ma Teng) rekan dari Bian Zhang dan Han Sui di
daerah Xizhou pada akhir masa pemerintahan Han Ling Di.
Pada tahun ketiga ChuPing (192 M),
Han Sui dan Ma Teng membawa pengikutnya dalam kunjungan resmi ke Chang An.
Kekaisaran Han mengangkat Han Sui sebagai Zhen Xi Jiangjun (Jendral yang
Mempertahankan Wilayah Barat), ditempatkan di Jing Cheng. Ma Teng diangkat
sebagai Zheng Xi Jiangjun (Jendral yang Menguasai Wilayah Barat) dan
ditempatkan di Tun Mei.
Selanjutnya, Ma Teng menyerang Chang
An, tetapi ia gagal dan mundur ke propinsi Liang. Zhong Yao yang menjaga
Guanzhong mengirim surat kepada Han Sui dan Ma Teng menawarkan bantuan. Ma Chao
dikirim Ma Teng untuk membantu Zhong Yao melawan Guo Yan dan Gao Gan di Ping
Yang. Dalam pertempuran tersebut, Pang De, anak buah Ma Chao berhasil membunuh
Guo Yuan. Ma Teng, yang kemudian berselisih dengan Han Sui, mengirim petisi
untuk ditempatkan di ibukota. Ma Teng dianugerahi gelar Weiwei (Komandan
Penjaga Istana), sedangkan Ma Chao digelari Bian Jiangjun (Letnan Jendral)
serta Marquis Duting.
Ma Chao mengumpulkan pasukan bersama
Han Sui, Yang Qiu, Li Kan dan Cheng Yi untuk menyerang gerbang Tong. Di tengah
medan tempur, Cao Cao bertemu Han Sui dan Ma Chao untuk berunding daripada
berperang. Ma Chao ingin menunjukkan keperkasaannya dengan merencanakan
menangkap Cao Cao secara mendadak. Hanya tatapan tajam Xu Chu sebagai pengawal
pribadi Cao Cao yang mengurungkan niat Ma Chao. Selanjutnya Cao Cao menggunakan
strategi Jia Xu untuk menciptakan perselisihan antara Ma Chao dan Han Sui yang
mengakibatkan persekutuan mereka terpecah.
Ma Chao melarikan diri dari
pengejaran Cao Cao sampai ke An Ding. Yang Fu menyatakan bahwa Cao Cao pernah
berkomentar "Ma Chao memiliki keberanian seperti Lu Bu dan Han Xin, dan
juga kesungguhan hati bangsa Qiang dan Hun. Jika dia kembali dengan pasukan
pada saat pertahanan kita lemah, semua pangkalan tentara di Long Shang akan
jatuh ke tangan Ma Chao." Komentar tersebut menjadi kenyataan. Walaupun
Long Shang telah memperkuat pertahanan, Ma Chao mampu membunuh gubernur
provinsi Liang, Wei Kang dan menjadikan kota Yi sebagai pangkalannya.
Ma Chao menggelari dirinya Zheng Xi
Jiangjun (Jendral yang Menguasai Wilayah Barat) dan menjadi gubernur provinsi
Bing dan mengatur urusan militer di provinsi Liang. Mantan anak buah Wei Kang
seperti Yang Fu, Jiang Yi, Liang Kuan dan Zhao Qu bersekutu untuk mengalahkan
Ma Chao. Yang Fu dan Jiang Yi mendekati pasukan Ma Chao dari kota Lu saat Ma
Chao berusaha menyerang mereka tetapi menemui kegagalan. Di saat yang
bersamaan, Liang Kuan dan Zhao Qu menutup pintu kota Yi, menghalangi Ma Chao
untuk kembali. Ma Chao terpaksa mengungsi ke Hanzhong, tempat Zhang Lu
berkuasa. Zhang Lu tidak memiliki kemampuan untuk membantu rencana Ma Chao
untuk merebut kembali kota Yi. Ketika mendengar Liu Bei telah mengurung Liu
Zhang di kota Chengdu, ia menulis surat yang menunjukkan keinginan untuk
bergabung dengan tentara Liu Bei.
Liu Bei mengirim beberapa pengikut
untuk meminta Ma Chao agar segera bergabung dalam pengepungan Chengdu.
Setibanya Ma Chao di luar kota Cheng Du, seluruh kota menjadi panik dan tak
lama kemudian Liu Zhang menyerah. Ma Chao diangkat menjadi Ping Xi Jiangjun
(Jendral yang Menentramkan Wilayah Barat) dan ditempatkan di daerah sekitar Ju.
Ketika Liu Bei menjadi pangeran Hanzhong, dia memberi Ma Chao gelar semu Zuo
Jiangjun (Jendral Pasukan Kiri). Pada tahun pertama Zhangwu (221 M), Ma Chao
diangkat menjadi Biao Qi Jiangjun (Jendral Kavaleri yang Tangkas), gubernur
provinsi Liang, serta Marquis Xi Liang.
Pidato Liu Bei mengatakan "Saya
bukan seorang yang bijak dan baik, hanya mewarisi kehormatan dari nenek moyang
saya. Cao Cao dan putra-putranya akan diingat dan disegani atas dosa dan
kejahatan mereka sampai ke seluruh Tiongkok bahkan oleh bangsa Di dan Qiang.
Anda (Ma Chao) adalah junjungan bangsa Utara dan keberanian Anda kekal dikenang
di sana, bahkan mereka bersedia bertempur bersama Anda melalui jarak ribuan mil
untuk melawan kejahatan. Anda diharapkan untuk mempersatukan mereka ke dalam
budaya bangsa Han dan berlaku adil dalam memberikan balas jasa dan hukuman yang
sepantasnya."
Pada tahun kedua, Ma Chao meninggal
pada usia 47 tahun. Sebelum wafatnya, dia mengajukan permohonan, isinya:
"Hamba pernah memiliki dua ratus orang di seluruh keluarga hamba, tetapi
hampir semuanya dibunuh oleh Meng De (Cao Cao), kecuali adik sepupu saya, Ma
Dai. Dia satu-satunya yang tersisa untuk melanjutkan garis keturunan keluarga,
maka dari hati yang terdalam, hamba menitipkannya kepada Yang Mulia (Liu Bei)
dan tak ada penyesalan dalam diri hamba." Ma Chao mendapat gelar anumerta
Marquis Yue Wei dan putranya, Ma Cheng menggantikannya. Ma Dai diangkat menjadi
Ping Bei Jiangjun {Jendral yang Menentramkan Wilayah Utara} dan digelari
Marquis Chen Cang. Putri Ma Chao dinikahkan dengan Pangeran Anping, Liu Li.
- Wèi Yán
Wèi Yán (175–234), (nama lain Wéncháng (文長)), adalah perwira perang negara Shu yang terkenal pada Zaman Tiga Negara di Tiongkok dulu. Menurut novel Romance of the Three Kingdoms bahwa Wei Yan awalnya bekerja sebagai perwira militer menengah dari Liu Biao, tetapi buku sejarah tidak membahasnya. Wei Yan bergabung dengan pasukan Liu Bei sesudah Liu menguasai Changsha sekitar tahun 209. Bakatnya membawa dia sebagai jendral utama dari pasukan Liu Bei selama bertahun-tahun. Liu Bei menawarkan dia sebagai kepala eksekutif di Hanzhong tahun 219, dan Wei Yan menjadi salah satu dari 6 orang militer terpenting di kerajaan Shu sesudah 5 Jendral Macan Shu.
Dia tidak pernah dipercaya oleh Zhuge Liang karena perangainya yang tergesa-gesa itu dapat membuat kehancuran Shu, tetapi hanya Liu Bei yang selalu memperhatikan Wei Yan,sehingga hanya Liu Bei teman perjuanganya, setelah Liu Bei wafat, Wei Yan semakin diintimidasi oleh Zhuge Liang. Pada peristiwa "Wu Zhang Plains" di perbatasan Chang An dan Han-Zhong,yang dimana Zhuge Liang mati karena sakit dan digantikan oleh Jiang Wei. Jiang Wei menyuruh seluruh pasukan Shu untuk mundur,tetapi tentara Wei Yan tetap di garis depan,karena merasa kemenangan ada di depan mata dan Zhuge Liang tiada, dia meneruskan pertempuran yang mengakibatkan kekalahan besar pada tentara garis depan Shu karena terkena jebakan "Catapult" Deng Ai dan "Ambush" Sima Zhao.Jiang wei sangat marah dan mengutus Ma Dai untuk membunuh Wei Yan, yang pada akhirnya disesalkan oleh kaisar Shu,Liu Chan, karena Shu kehilangan salah satu jendral terbaik pada saat itu setelah era Guan Yu, dan menjadi salah satu faktor Kehancuran Shu dalam peperangan.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar